Jumat, 06 Maret 2009

Bagaimana mengembangkan lahan tanah pedesaan yang dianggap tidak punya prospek menjadi tanah bernilai tinggi? (bagian 1)

Bagaimana mengembangkan lahan tanah pedesaan yang dianggap tidak punya prospek menjadi tanah bernilai tinggi? dari pertanyaan ini saya teringat kepada sebuah judul buku The Magic Of Thinking Big, sebuah buku terlaris dunia karya David J. Schwartz. Salah satu bahasannya menurut saya sangat mengena untuk menjawab pertanyaan di atas. Dan kiranya sangat mencuri perhatian saya juga sangat inspiratif. Setidaknya bagi saya yang sedang mengenai belajar investasi di bidang tanah dan properti secara otodidak.
Lihat apa kemungkinannya, bukan hanya apa yang ada. Pemikir besar melatih diri mereka untuk melihat bukan hanya apa yang ada tetapi apa kemungkinannya.
Saya sangat setuju dengan apa yang dinasehatkan oleh David ini.
Seorang agen real estate yang sangat sukses dan berspesialisasi dalam tanah pertanian di pedesaan memperlihatkan apa yang dapat dilakukan jika kita melatih diri melihat sesuatu di mana ada sedikit atau tidak ada sesuatu pun yang eksis sekarang ini, yaitu melihat kemungkinan-kemungkinannya.mari kita simak cerita David.


"Kebanyakan tanah pedesaan di sekitar sini," teman saya berkata,"tidak begitu menarik. Saya berhasil karena saya tidak berusaha men jual tanah pertanian ini sebagaimana adanya.
"Saya mengembangkan seluruh rencana penjualan saya berdasarkan kemungkinan apa saja yang dapat dihasilkan dari pertanian ini. Sekedar mengatakan kepada calon pembeli, Pertanian ini luasnya sekian hektar yang terdiri atas tanah di sepanjang tepi seungai dan sekian hektar hutan dan sekian kilometer jauhnya dari kota,' tidak akan menggugahnya dan membuatnya ingin membeli tanah tersebut.

Namun, jika Anda memperlihatkan rencana konkrit untuk melakukan sesuatu dengan tanah pertanian tersebut, ia sudah tergugah minatnya untuk membeli. Mari saya perlihatkan apa yang saya maksud."

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah arsip. "Pertanian ini," katanya,"43 kilometer jauhnya dari kota terdekat, rumahnya perlu diperbaiki, dan pertanian tersebut tidak diolah selama lima tahun.

Sekarang inilah yang sudah saya lakukan. Saya menghabiskan dua hari penuh minggu lalu hanya untuk mempelajarinya. Saya berjalan berkeliling pertanian tersebut beberapa kali. Saya memperhatikan pertanian-pertanian lain di sekitarnya. Saya mempelajari lokasi pertanian tersebut dalam kaitannya dengan jalan raya yang sudah ada dengan yang direncanakan akan dibangun. Saya bertanya kepada diri sendiri,' untuk apa baiknya tanah pertanian ini?'

"Saya mendapatkan tiga kemungkinan." Ia memperlihatkan tiga kemungkinan itu kepada saya. Tiap rencana di ketik rapi dan tampak menyeluruh. Salah satu rencana adalah mengubah pertanian menjadi tempat penyewaan kuda tunggang. Rencana tersebut memperlihatkan mengapa gagasan tersebut bagus : Kota yang sedang berkembang, berkembangnya minat akan kegiatan di luar rumah, ada lebih banyak uang untuk rekreasi, jalan yang bagus.

Rencana tersebut juga memperlihatkan bagaimana pertanian tadi dapat menampung kuda dalam jumlah lumayan besar sehingga pemasukan dari tempat sewa tersebut akan besar. Keseluruhan gagasan sangat tuntas. sangat meyakinkan - begitu meyakinkan sehingga saya dapat "melihat" selusin pasangan menunggang kuda melewati pepohonan."
Inilah alternatif cara yang pertama. Supaya tidak terlalu panjang maka saya potong. Jika ingin melanjutkan kepada bagaimana alternatif rencana berikutnya bagaimana pengaruhnya kepada calon pembeli tanah, silahkan klik Bagaimana mengembangkan lahan tanah pedesaan yang dianggap tidak punya prospek menjadi tanah bernilai tinggi? (bagian 2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar